MAKALAH
IPTEK DAN SENI DALAM ISLAM
IPTEK DAN SENI DALAM ISLAM
Disusun Oleh:
Muhammad Wafak (150111100177)
FAKULTAS ILMU HUKUM
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah – Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
Pendidikan Agama Islam yang berjudul “ IPTEK dan Seni dalam islam ” dengan lancar. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan
makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam isi maupun
penyusunannya, baik dalam penyusunan kata, bahasa, dan sistematika pembahasannya. Oleh sebab itu penulis
mengharapkan saran atau kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan di masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis
mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang sudah
berkenan membaca makalah ini dengan tulus ikhlas.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan pembaca. Amin.
Bangkalan,
30 April 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..................................................................................................... 2
Daftar Isi .............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................... 9
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 9
BAB PEMBAHASAN
2.1 IPTEK Menurut Islam..................................................................................... 10
2.2 Seni Menurut Islam......................................................................................... 20
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................... .
26
3.2 Saran............................................................................................................. .
26
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
A. Definisi IPTEK
Ilmu pengetahuan dan teknologi
merupakan dua sosok yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah
sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan
rekayasa dan ide-ide. Adapun teknoogi adalahl terapan atau aplikasi dari ilmu
yg dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong
manusia untuk berkembang lebih maju lagi. Sebagai umat Islam kita harus menyadari
bahwa dasar-dasar filosofis untuk mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa
dikaji dan digali dalam Al-Qur’an sebab kitab suci ini banyak mengupas
keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Seperti kita ketahui, teknologi kini
telah merembet dalam kehidupan kebanyakan manusia bahkan dari kalangan atas
hingga menengah kebawah sekalipun. Dimana upaya tersebut merupakan cara atau
jalan di dalam mewujudkan kesejahteraan dan meningkatkan harkat dan martabat
manusia. Atas dasar kreatifitas, akalnya, manusia mengembangkan IPTEK dalam
rangka untuk mengolah SDA yang di berikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dimana
dalam pengembangan IPTEK harus didasari terhadap moral dan kemanusiaan yang
adil dan beradab, agar semua masyarakat mengecam IPTEK secara merata. Disatu sisi telah terjadi
perkembangan yang sangat baik sekali di aspek telekomunikasi, namun pelaksanaan pembangunan IPTEK masih
belum merata.
Dengan perkembangan dan kemajuan
zaman dengan sendirinya pemanfaatan dan penguatan IPTEK mutlak diperlukan untuk
mencapai kesejahteraan
bangsa. Visi dan Misi IPTEK dirumuskan sebagai paduan untuk mengoptimalkan
setiap sumber daya IPTEK yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.Undang-undang
No.18 Tahun2002 tentang Sistem Nasional Penelitiha, Pengembangan dan Penerapan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang yelah berlaku sejak 29 Juli 2002, merupakan
penjabaran dari visi dan misi IPTEK sebagaimana termaksud dalam UUD 1945
Amandemen pasal 31 ayat 5, agar dapat dilaksanakan oleh pemerintah beserta
seluruh rakyat dengan sebaik baiknya. Selain itu pula perkembangan IPTEK di
berbagai bidang di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat semestinya
dapat meningkatkan kualitas SDM di tengah bermunculannya dampak negatif dari adanya
perkembangan IPTEK, sehingga diperlukan pemikiran yang serius dan mantap dalam
menghadapi permasalahan dalam penemuan-penemuan baru tersebut.
B. Pelaksanaan Dan Pengembangan IPTEK di Indonesia
Peradaban bangsa dan masyarakat dunia
di masa depan sudah dipahami dan disadari akan berhadapan dengan situasi yang
serba kompleks dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, sebut saja antara lain:
cloning, cosmology, cryonics, cybernities, exobiology, genetik, engineering dan
nanoteknology. Cabang-cabang IPTEK itu telah memunculkan berbagai
perkembangan yang sangat cepat dan
implikasi yang menguntungkan bagi manusia atau sebaliknya.
Untuk mendayagunakan IPTEK diperlukan nilai-nilai luhur agar
dapat dipertanggungjawabkan. Rumusan 4 nilai luhur pembangunan IPTEK nasional.
1.Accountable, penerapan IPTEK harus dapat
dipertanggungjawabkan baik secara moral, lingkungan, finansial bahkan dampak
politis.
2.Visionary, pembangunan ipek memberikan solusi strategis dan
jangka panjang, tetapi taktis dimana kini tidak bersifat sektoral dan hanya
memberi implikasi terbatas.
3.Innovative, asal katanya adalah “innovere” yang artinya
temuan baru yang bermanfaat. Nilai luhur dari pembangunan IPTEK artinya dapat
berorientasi pada segala sesuatu yang baru, dan memberikan apresiasi tinggi
terhadap upaya untuk memproduksi inivasi baru dalam upaya inovatif untuk
mendapatkan produktifitas.
4.Excellence, keseluruhan tahapan pembanguna IPTEK mulai dari
fase inisiasi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, implikasi pada
bangsa harus baik, yang terbaik atau berusaha
menuju terbaik. Pesatnya kemajuan IPTEK untek memperkuat posisi daya
saing Indonesia dalam kehidupan global.
C. Dampak Negatif IPTEK
Bagi masyarakat sekarang IPTEK sudah
merupakan suatu religion. Pengembangan IPTEK dianggap sebagai solusi dari
permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja IPTEK lebagai liberator
yang akan membebaskan mereka dari kungkungan
kefanaan dunia. IPTEK yakina akan memberi umat manusia kesehatan,
kebahagiaan dan imortalitas. Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan
kesejahteraan manusiatidak dapat dipungkiri. Namum manusia tidak bisa menipu
diri akan kenyataan bahwa IPTEK mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi
manusia.Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oloh
disilusi dari dampak negatif IPTEK
terhadap kehidupan umat manusia. Kalaupun ipek mampu mengungkap semua
tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti IPTEK sinonim dengan kebenaran.
Sebab IPTEK hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi
haruslah lebih dari sekedar kenyataan objektif. Kebenaran harus mencakup pula
unsur keadilan. Tentu saja IPTEK tidak mengenal unsur kemanusiaan, oleh karena
itu IPTEK tidak pernah bisa menjadi standar kebenaran ataupun solusi dari
masalah-maslah kemanusiaan. Dari segala dampak terburuk dari perkembangan IPTEK
adalah dampak terhadap peri laku dari manusia penciptanya. IPTEK telah membuat
sang penciptanya di hinggapi sifat over confidence dan superiotas tidak saja
terhadap alam melainkan pula terhadap sesamamya. Eksploitasi terhadap alam dan
dominasi pihak yang kuat(negara barat) terhadap negara yang lemah (negara dunia
ketiga) merupakan ciri yang melekat sejak lahirnya revolusi industri.
D. Definisi Seni
Dalam bahasa Sanskerta, kata seni
disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya
su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihiasi dengan indah. Sebagai
kata benda ia berarti pewarnaan, yang kemudian berkembang menjadi segala macam
kekriaan yang artistik. Cilpacastra adalah buku atau pedoman bagi para cilpin,
yaitu tukang, termasuk didalamnya apa yang sekarang disebut seniman. Memang
dahulu belum ada perbedaan antara seniman dan tukang. Pemahaman seni adalah
yang merupakan ekspresi pribadi belum ada dan seni adalah ekspresi keindahan
masyarakat yang bersifat kolektif. Yang demikian ini ternyate tidak hanya
terdapat di India dan Indonesia. Juga terdapat di Barat pada masa lampau.
Dalam bahasa Latin pada abad
pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars, artes, dan artista. Ars adalah
teknik atau craftsmanship, yaituketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan
sesuatu; adapun artes berarti kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan
atau kemahiran; artista adalah anggota yang ada didalam kelompok-kelompok itu.
Ars inilah yang kemudian berkembang menjadi I’arte (italia), I’art
(Perancis),Elarte (Spanyol), dan Art (Inggris), dan bersamaan dengan itu
isinyapun berkembang sedikit demi sedikit kearah pengertiaannya yang sekarang.
Tetapi di Eropa ada juga istilah-istilah yang lain, orang Jerman menyebut seni
dengan Kunst dan orang Belanda dengan Kunst, yang berasal dari kata lain
walaupun dengan pengertian yang sama. Bahasa Jerman juga menyebut dengan
istilah die Art yang berarti cara, jalan, atu modus, yang juga dapat
dikembalikan pada asal mula pengertian dan kegiatan seni, namun demikian die
Kunst-lah yang di angkat untuk istilah tersebut.
Pengertian seni menurut beberapa ahli:
1. Ki Hajar Dewantara
Seni merupakan segala perbuatan
mansia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakan
jiwa perasaan manusia.
2. Prof. Drs. Suwaji Bastomi
Seni adalah aktifitas batin dengan
pengalaman estetik yang dinyatakan dalam brntuk agung yng mempunyai daya
membangkitkan rasa takjub dan haru.
3. Drs. Sudarmaji
Seni adalah segala manisvestasi batin
dan pengalaman estetis dengan menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur,
volume dan gelap terang.
4. Enslikopedia Indonesia
Seni adalah penciptaa segala sesuatu
hal atau benda yang karena keindahannya orang senang melihatnya atau
mendengarkan
E. Cabang Seni
1. Seni Musik atau seni suara
2. Seni tari atu seni gerak
3. Seni drama
4. Seni Rupa
F. Fungsi Seni
1. Untuk Kebutuhan Individu
a. Kebutuhan Fisik
Sejarah membuktikan bahwa
perkembangan seni musik selalu seiring dengan peradaban mausia. Sejak dulu,
benda-benda diciptakan dengan mempertimbangkan nilai seni. Misalnya, model baju
yang bernilai seni tinggi tentu harganya jauh lebih mahal dibanding yang kurang
berseni.
b. Kebutuhan Emosional
Manusia juga mempunya kebutuhan
emosional yang harus dipenuhi. Saat sedang sedih, gembira, dan sebagainya.
Lewat seni inilah seseorang dapat mengungkapkan perasaan dan daya imajinasinya
atau menikmati seni tersebut untuk menghibur hatinya.
2. Untuk Kebutuhan Sosial
a. Bidang Agama.
b. Bidang Pendidikan
c.Bidang Komunikasi
d. Bidang Rekreasi
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana IPTEK menurut islam ?
- Apa saja yang menjadi dasar
kewajiban dalam mencari ilmu ?
- Bagaimana interaksi antara iman,
ilmu dan amal ?
- Apa keutamaan orang yang berilmu
?
- Bagaimana perkembangan IPTEK di
Indonesia ?
- Apa definisi dari seni dalam
islam ?
- Alat musik apa saja yang
digunakan dalam islam ?
1.3 Tujuan
- Untuk mengetahui perkembangan IPTEK
dalam islam.
- Untuk mengetahui dasar kewajiban
dalam mencari ilmu.
- Untuk mengetahui interaksi
antara iman, ilmu, dan amal dalam memcari ilmu
- Untuk mengetahui keutamaan orang
yang berilmu.
- Untuk mengetahui perkembangan
IPTEK di Indonesia.
- Untuk mengetahui definisi dari
seni dalam islam.
- Untuk mengetahui seni dalam
islam yang digunakan dalam islam.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
IPTEK Menurut Islam
Peran Islam dalam perkembangan IPTEK
adalah bahwa Syariah Islam harus dijadikan standar pemanfaatan IPTEK. Ketentuan
halal-haram (hukum-hukum syariah islam) wajib dijadikan tolok ukur dan
pemanfaatan IPTEK, bagaimana pun juga bentuknya. IPTEK yang boleh
dimanfaatkan adalah yang telah
dihalalkan oleh syariah islam. Sedangkan IPTEK yang tidak boleh dimanfaatkan
adalah yang telah diharamkan. Akhlak yang baik muncul dari keimanan dan ketakwaan
kepada Allah SWT sumber segala kebaikan, Keindahan, dan Kemuliaan. Keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah SWT hanya akan muncul bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan
terhadap Tuhan Allah SWT dan terhadap alam semesta sebagai tajaliyat
(manifestasi) sifat-sifat KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Islam sebagai agama penyempurna dan
paripurna bagi kemanusiaan,sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk
mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam
semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu
pengetahuandan teknologi. Berbeda dengan pandangan Barat yang melandasi
pengembangan IPTEKnya hanya untuk mementingkan duniawi, maka Islam mementingkan
penguasaan IPTEK untuk menjadi sarana ibadah atau pengabdian Muslim kepada
Allah SWT dan mengembang amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka
bumi untuk berkhidmat kepada manusia dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam.
Ada lebih dari 800 ayat dalam Al-Quran
yang mementingkan proses perenungan, pemikiran, dan pengamatan tehadap
berbagai gejala alam, untuk di tafakuri dan menjadi bahan dzikir kepada Allah.
Bila ada pemahaman atau tafsiran
ajaran agama Islam yang menentang fakta ilmiah, maka kemumgkinan yang salah
adalah pemahaman dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ilmu
pengetahuan yang menentang prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah
adalah tafsiran filosofis atau paradigma materialisme yang beradadi balik wajah
ilmu pengetahuan modern tersebut. Karena alam semesta yang dipelajari melalui
ilmu pengetahuan dan ayat-ayat suci Tuhan( Al-Quran) dan Sunnah Rasulullah SAW
yang di pelajari melalui agama adalah sama-sama ayat (tanda-tanda dan
perwujudan ) Allah SWT, maka tidak mungkin satu sama lain saling
bertentangan dan bertolak belakang,
karena keduanya berasal dari satu sumber sama, Allah Yang Maha Pencipta dan
Pemelihara seluruh Alam Semesta.
- Kewajiban Mencari Ilmu
Pada dasarnya kita hidup didunia ini
tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Tentunya beribadah dan beramal
harus berdasarkan ilmu yang ada di Al-Qur’an dan Al-Hadist. Tidak akan tersesat
bagi siapa saja yang berpegang teguh dan sungguh-sungguh berpedoman pada
Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Disebutkan dalam hadist, bahwasanya
ilmu yang wajib dicari seorang muslim ada 3, sedangkan yang lainnya akan
menjadi fadhlun (keutamaan). Ketiga ilmu tersebut adalah ayatun muhkamatun
(ayat-ayat Al-Qur’an yang menghukumi), sunnatun qoimatun (sunnah dari Al-hadist
yang menegakkan) dan faridhotun adilah (ilmu bagi waris atau ilmu faroidh yang
adil)
Dalam sebuah hadist rasulullah
bersabda, “ mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang
meletakkan ilmu pada selain yang ahlinya bagaikan menggantungkan permata dan
emas pada babi hutan.”(HR. Ibnu Majah dan lainya)
Juga pada hadist rasulullah yang
lain,”carilah ilmu walau sampai ke negeri cina”. Dalam hadist ini kita tidak
dituntut mencari ilmu ke cina, tetapi dalam hadist ini rasulullah menyuruh kita
mencari ilmu dari berbagai penjuru dunia. Walau jauh ilmu haru tetap dikejar.
Dalam kitab “ Ta’limul muta’alim”
disebutkan bahwa ilmu yang wajib dituntut trlebih dahulu adalah ilmu haal yaitu
ilmu yang seketika itu pasti digunakan dan diamalkan bagi setiap orang yang sudah baligh.
Seperti ilmu tauhid dan ilmu fiqih. Apabila kedua bidang ilmu itu telah
dikuasai, baru mempelajari ilmu-ilmu lainya, misalnya ilmu kedokteran, fisika,
matematika, dan lainya.
Kadang-kadang orang lupa dalam
mendidik anaknya, sehingga lebih mengutamakan ilmu-ilmu umum daripada ilmu
agama. Maka anak menjadi orang yang buta agama dan menyepelekan
kewajiban-kewajiban agamanya. Dalam hal ini orang tua perlu sekali memberikan
bekal ilmu keagamaan sebelum anaknya mempelajari ilmu-ilmu umum.
Dalam hadist yang lain Rasulullah
bersabda, “sedekah yang paling utama adalah orang islam yang belajar suatu ilmu
kemudian diajarkan ilmu itu kepada orang lain.”(HR. Ibnu Majah)
Maksud hadis diatas adalah lebih utama lagi orang yang mau
menuntut ilmu kemudian ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Inilah sedekah
yang paling utama dibanding sedekah harta benda. Ini dikarenakan mengajarkan
ilmu, khususnya ilmu agama, berarti menenan amal yang muta’adi (dapat
berkembang) yang manfaatnya bukan hanya dikenyam orang yang diajarkan itu
sendiri, tetapi dapat dinikmati orang lain
- Interaksi iman, ilmu dan amal
Dalam pandangan Islam, antara agama,
ilmu pengetahuan, teknologi dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan
dinamis yang terinteraksi ke dalam suatu sistem yang disebut dinul Islam,
didalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu akidah, syariah, dan akhlak dengan
kata lain iman, ilmu dan amal shaleh.
Islam merupakan ajaran agama yang
sempurna, karena kesempurnaannya dapat tergambar dalam keutuhan inti ajarannya.
Di dalam al-Qur’an dinyatakan yang artinya “Tidaklah kamu memperhatikan
bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (dinul Islam)
seperti sebatang pohon yang baik, akarnya kokoh (menghujam kebumi) dan
cabangnya menjulang ke langit, pohon itu mengeluarkan buahnya setiap muslim dengan
seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia
agar mereka ingat”.
Dari penjelasan tersebut di atas
menggambarkan keutuhan antara iman, ilmu dan amal atau syariah dan akhlak
dengan menganalogikan dinul Islam bagaikan sebatang pohon yang baik. Ini
merupakan gambaran bahwa antara iman, ilmu dan amal merupakan suatu kesatuan
yang utuh tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Iman diidentikkan
dengan akar dari sebuah pohon yang menupang tegaknya ajaran Islam, ilmu
bagaikan batang pohon yang mengeluarkan dahan. Dahan dan cabang-cabang ilmu
pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu ibarat dengan teknologi
dan seni. IPTEK yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan ilmu akan
menghasilkan amal shaleh bukan kerusakan alam.
- Keutamaan orang yang berilmu
Orang yang berilmu mempunyai
kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah dan masyarakat. Al-Quran
menggelari golongan ini dengan berbagai gelaran mulia dan terhormat yang
menggambarkan kemuliaan dan ketinggian kedudukan mereka di sisi Allah SWT dan
makhluk-Nya. Mereka digelari sebagai “al-Raasikhun fil Ilm” (Al Imran : 7),
“Ulul al-Ilmi” (Al Imran : 18), “Ulul al-Bab” (Al Imran : 190), “al-Basir” dan
“as-Sami' “ (Hud : 24), “al-A'limun” (al-A'nkabut : 43), “al-Ulama” (Fatir :
28), “al-Ahya' “ (Fatir : 35) dan berbagai nama baik dan gelar mulia lain.
Dalam surat ali Imran ayat ke-18,
Allah SWT berfirman: "Allah
menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah),
Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang- orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana". Dalam ayat ini ditegaskan pada golongan orang berilmu bahwa
mereka amat istimewa di sisi Allah SWT .
Mereka diangkat sejajar dengan para
malaikat yang menjadi saksi Keesaan Allah SWT.
Peringatan Allah dan Rasul-Nya sangat
keras terhadap kalangan yang menyembunyikan kebenaran/ilmu,sebagaimana
firman-Nya:
اللاَّعِنُونَ وَيَلْعَنُهُمُ
اللهُ يَلْعَنُهُمُ ولَئِكَ الْكِتَابِ سِ لِلنَّا بَيَّنَّاهُ مَا
بَعْدِمِنْالْهُدَى لْبَيِّنَاتِ مِنَ أَنْزَلْنَا مَا يَكْتُمُونَ الَّذِينَ إِنَّ
"Sesungguhnya orang-orang yang
menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang
jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab,
mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua (mahluk) yang dapat
melaknati." (Al-Baqarah: 159)
Rasulullah saw juga bersabda:
"Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, akan dikendali mulutnya oleh Allah
pada hari kiamat dengan kendali dari api neraka." (HR Ibnu Hibban di dalam
kitab sahih beliau. Juga diriwayatkan oleh Al-Hakim. Al Hakim dan adz-Dzahabi
berpendapat bahwa hadits ini sahih) Jadi setiap orang yang berilmu harus
mengamalkan ilmunya agar ilmu yang ia peroleh dapat bermanfaat. Misalnya dengan
cara mengajar atau mengamalkan pengetahuanya untuk hal-hal yang bermanfaat.
- Tanggung jawab ilmuwan terhadap alam
Manusia, sebagaimana makhluk lainnya, memiliki ketergantungan
terhadap alam. Namun, di sisi lain, manusia justru suka merusak alam. Bahkan
tak cukup merusak, juga menhancurkan hingga tak bersisa. Tiap sebentar kita
mendengar berita menyedihkan tentang kerusakan baru yang timbul pada sumber
air, gunung atau laut. Para ilmuwan mengumumkan ancaman meluasnya padang pasir,
semakin berkurangnya hutan, berkurangnya cadangan air minum, menipisnya sumber
energi alam, dan semakin punahnya berbagai jenis tumbuhan dan hewan.
Sayangnya, meski nyata terasa dampak
akibat kerusakan tersebut, sebagian besar manusia sulit menyadarinya. Mereka
berdalih apa yang mereka lakukan adalah demi kepentingan masa depan. Padahal
yang terjadi justru sebaliknya; tragedi masa depan itu sedang berjalan di depan
kita. Dan, kitalah sesungguhnya yang menjadi biang kerok dari tragedi masa
depan tersebut. Manusia telah diperingatkan Allah SWT dan Rasul-Nya agar jangan
melakukan kerusakan di bumi. Namun, manusia mengingkari peringatan tersebut.
Allah SWT menggambarkan situasi ini
dalam Al-Qur’an:
وَإِذَا
قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
“Dan bila dikatakan kepada mereka,
‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya
kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS Al-Baqarah:11)
Allah SWT juga mengingatkan manusia dalam QS Ar-ruum: 41-42
الْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي
عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ فِي الْبَرِّ وَ ظَهَرَ الْفَسَادُ
مُّشْرِكِينَ أَكْثَكَانَ
ۚ قَبْلُ مِن نَ الَّذِيعَاقِبَةُ كَانَ كَيْفَ فَانظُرُوا الْأَرْضِ فِي سِيرُوا قُلْ
“Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar)’. Katakanlah, ‘Adakan perjalanan di
muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan
dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).’’ (QS Ar-ruum:
41-42)
Pada masa sekarang pendidikan lingkungan
menjadi mutlak diperlukan. Tujuannya mengajarkan kepada masyarakat untuk
menjaga jangan sampai berbagai unsur lingkungan menjadi hancur, tercemar, atau
rusak. Untuk itu manusia sebagai khalifah di bumi dan sebagai ilmuwan harus
bisa melestarikan alam. Mungkin bisa dengan cara mengembangkan teknlogi ramah
lingkungan, teknologi daur ulang, dan harus bisa memanfaatkan sumber daya alam
dengan bijak..
- Penyikapan terhadap Perkembangan
IPTEK
Setiap manusia diberikan hidayah dari
Allah SWT berupa “alat” untuk mencapai dan membuka kebenaran. Hidayah tersebut
adalah :
a.indera, untuk menangkap kebenaran fisik,
b.naluri, untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan hidup
manusia secara probadi maupun sosial
c.pikiran dan atau kemampuan rasional yang mampu mengembangkan
kemampuan tiga jenis pengetahuan akali (pengetahuan biasa, ilmiah dan filsafi).
Akal juga merupakan penghantar untuk menuju kebenaran tertinggi imajinasi, daya
khayal yang mampu menghasilkan kreativitas dan menyempurnakan pengetahuannya
e.hati nurani, suatu kemampuan manusia untuk dapat menangkap
kebenaran tingkah laku manusia sebagai makhluk yang harus bermoral.
Dalam menghadapi perkembangan budaya
manusia dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat, dirasakan perlunya mencari
keterkaitan antara sistem nilai dan norma-norma Islam dengan perkembangan
tersebut. Menurut Mehdi Ghulsyani (1995), dalam menghadapi perkembangan IPTEK
ilmuwan muslim dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok:
- Kelompok yang menganggap IPTEK
moderen bersifat netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil IPTEK
moderen dengan mencari ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai;
- Kelompok yang bekerja dengan IPTEK
moderen, tetapi berusaha juga mempelajari sejarah dan filsafat ilmu agar
dapat menyaring elemen-elemen yang tidak islami,
- Kelompok yang percaya adanya IPTEK
Islam dan berusaha membangunnya.
Untuk kelompok ketiga ini memunculkan
nama Al-Faruqi yang mengintrodusir istilah “islamisasi ilmu pengetahuan”. Dalam
konsep Islam pada dasarnya tidak ada pemisahan yang tegas antara ilmu agama dan
ilmu non-agama. Sebab pada dasarnya ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia
merupakan “jalan” untuk menemukan kebenaran Allah itu sendiri. Sehingga IPTEK
menurut Islam haruslah bermakna ibadah. Yang dikembangkan dalam budaya Islam
adalah bentuk-bentuk IPTEK yang mampu mengantarkan manusia meningkatkan derajat
spiritialitas, martabat manusia secara alamiah. Bukan IPTEK yang merusak alam
semesta, bahkan membawa manusia ketingkat yang lebih rendah martabatnya.
Dari uraian di atas “hakekat”
penyikapan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah memanfaatkan
perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan
kualitas ibadah kepada Allah SWT. Kebenaran IPTEK menurut Islam adalah
sebanding dengan kemanfaatannya IPTEK itu sendiri.
IPTEK akan bermanfaat
apabila:
a. Mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan menjauhkannya
b. Dapat membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang
baik),
c. Dapat memberikan pedoman bagi sesama,
d.Dapat menyelesaikan persoalan umat. Dalam konsep Islam sesuatu
hal dapat dikatakan mengandung kebenaran apabila ia mengandung manfaat dalam
arti luas.
- Keselarasan IMTAQ dan IPTEK
“Barang siapa ingin menguasai dunia
dengan ilmu, barang siapa ingin menguasai akhirat dengan ilmu, dan barang siapa
ingin menguasai kedua-duanya juga harus dengan ilmu” (Al-Hadist). Perubahan
lingkungan yang serba cepat dewasa ini sebagai dampak globalisasi dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), harus diakui telah
memberikan kemudahan terhadap berbagai aktifitas dan kebutuhan hidup manusia.
Di sisi lain, memunculkan kekhawatiran terhadap perkembangan perilaku khususnya
para pelajar dan generasi muda kita, dengan tumbuhnya budaya kehidupan baru
yang cenderung menjauh dari nilai-nilai spiritualitas. Semuanya ini menuntut perhatian
ekstra orang tua serta pendidik khususnya guru, yang kerap bersentuhan langsung
dengan siswa.
Dari sisi positif, perkembangan IPTEK
telah memunculkan kesadaran yang kuat pada sebagian pelajar kita akan
pentingnya memiliki keahlian dan keterampilan. Utamanya untuk menyongsong
kehidupan masa depan yang lebih baik, dalam rangka mengisi era milenium ketiga
yang disebut sebagai era informasi dan era bio-teknologi. Ini
sekurang-kurangnya telah memunculkan sikap optimis, generasi pelajar kita
umumya telah memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan itu. Don Tapscott,
dalam bukunya Growing up Digital (1999), telah melakukan survei terhadap para
remaja di berbagai negara. Ia menyimpulkan, ada sepuluh ciri dari generasi 0
(zero), yang akan mengisi masa tersebut. Ciri-ciri itu, para remaja umumnya
memiliki pengetahuan memadai dan akses yang tak terbatas.
Sikap optimis terhadap keadaan
sebagian pelajar ini tentu harus diimbangi dengan memberikan pemahaman, arti
penting mengembangkan aspek spiritual keagamaan dan aspek pengendalian
emosional. Sehingga tercapai keselarasan pemenuhan kebutuhan otak dan hati
(kolbu). Penanaman kesadaran pentingnya nilai-nilai agama memberi jaminan
kepada siswa akan kebahagiaan dan keselamatan hidup, bukan saja selama di dunia
tapi juga kelak di akhirat. Jika hal itu dilakukan, tidak menutup kemungkinan
para siswa akan terhindar dari kemungkinan melakukan perilaku menyimpang, yang
justru akan merugikan masa depannya serta memperburuk citra kepelajarannya.
Amatilah pesta tahunan pasca ujian nasional, yang kerap dipertontonkan secara
vulgar oleh sebagian para pelajar. Itulah salah satu contoh potret buram
kondisi sebagian komunitas pelajar kita saat ini. Untuk itu, komponen penting
yang terlibat dalam pembinaan keimanan dan ketakwaan (imtak) serta akhlak siswa
di sekolah adalah guru. Kendati faktor lain ikut mempengaruhi, tapi dalam
pembinaan siswa harus diakui guru faktor paling dominan. Ia ujung tombak dan
garda terdepan, yang memberi pengaruh kuat pada pembentukan karakter siswa. Kepada
guru harapan tercapainya tujuan pendidikan nasional disandarkan. Ini
sebagaimana termaktub dalam Pasal 3 Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Intinya, para pelajar kita disiapkan agar menjadi
manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri. Sekaligus jadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan sebenarnya
mengisyaratkan, proses dan hasil harus mempertimbangkan keseimbangan dan keserasian
aspek pengembangan intelektual dan aspek spiritual (rohani), tanpa memisahkan
keduanya secara dikhotomis. Namun praktiknya, aspek spiritual seringkali hanya
bertumpu pada peran guru agama. Ini dirasakan cukup berat, sehingga
pengembangan kedua aspek itu tidak berproses secara simultan. Upaya melibatkan
semua guru mata ajar agar menyisipkan unsur keimanan dan ketakwaan (imtak) pada
setiap pokok bahasan yang diajarkan, sesungguhnya telah digagas oleh pihak
Departeman Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama. Survei membuktikan,
mengintegrasikan unsur ‘imtaq’ pada mata ajar selain pendidikan agama adalah
sesuatu yang mungkin. Namun dalam praktiknya, target kurikulum yang menjadi
beban setiap guru yang harus tuntas serta pemahaman yang berbeda dalam
menyikapi muatan-muatan imtaq yang harus disampaikan, menyebabkan keinginan
menyisipkan unsur imtak menjadi terabaikan. Memang tak ada sanksi apapun jika
seorang guru selain guru agama tidak menyisipkan unsur imtaq pada pelajaran
yang menjadi tanggung jawabnya. Jujur saja guru umumnya takut salah jika
berbicara masalah agama, mereka mencari aman hanya mengajarkan apa yang menjadi
tanggung jawabnya.
Sesungguhnya ia bukan sekadar
tanggung jawab guru agama, tapi tanggung jawab semuanya. Dalam kacamata Islam,
kewajiban menyampaikan kebenaran agama kewajiban setiap muslim yang mengaku
beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.
2.2 Seni
Menurut Islam
- Definisi Seni Menurut Islam
Kata “seni” adalah sebuah kata yang
semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang
berbeda. Konon kata seni berasal dari kata “SANI” yang kurang lebih artinya
“Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa”. Namun menurut kajian ilimu di Eropa
mengatakan “ART” (artivisial) yang artinya kurang lebih adalah barang/ atau karya
dari sebuah kegiatan.
Pandangan Islam tentang seni. Seni
merupakan ekspresi keindahan. Dan keindahan menjadi salah satu sifat yang
dilekatkan Allah pada penciptaan jagat raya ini. Allah melalui kalamnya di
Al-Qur’an mengajak manusia memandang seluruh jagat raya dengan segala
keserasian dan keindahannya.
Allah itu indah dan menyukai
keindahan. Inilah prinsip yang didoktrinkan Nabi saw., kepada para sahabatnya.
Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda :
“Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terbetik sifat
sombong seberat atom.” Ada orang berkata,” Sesungguhnya seseorang senang
berpakaian bagus dan bersandal bagus.” Nabi bersabda,” Sesungguhnya Allah Maha
Indah, menyukai keindahan. Sedangkan sombong adalah sikap menolak kebenaran dan
meremehkan orang lain.” (HR. Muslim). Bahkan salah satu mukjizat Al-Qur’an
adalah bahasanya yang sangat indah, sehingga para sastrawan arab dan bangsa
arab pada umumnya merasa kalah berhadapan dengan keindahan sastranya,
keunggulan pola redaksinya, spesifikasi irama, serta alur bahasanya, hingga
sebagian mereka menyebutnya sebagai sihir. Dalam membacanya, kita dituntut
untuk menggabungkan keindahan suara dan akurasi bacaannya dengan irama
tilawahnya sekaligus.
Rasulullah bersabda :
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah,
Ibnu Hibban, Darimi)
Maka manusia menyukai kesenian sebagai representasi dari
fitrahnya mencintai keindahan. Dan tak bisa dipisahkan lagi antara kesenian
dengan kehidupan manusia. Namun bagaimana dengan fenomena sekarang yang
ternyata dalam kehidupan sehari-hari nyanyian-nyanyian cinta ataupun
gambar-gambar seronok yang diklaim
sebagai seni oleh sebagian orang semakin marak menjadi konsumsi orang-orang
bahkan anak-anak.Sebaiknya di kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahwa dalam Al-Qur’an disebutkan :
مُّهِينٌ عَذَابٌ لَهُمْ أُولَٰئِكَ هُزُوًاوَيَتَّخِذَهَا عِلْمٍ
بِغَيْرِ اللَّهِ سَبِيلِ عَن لِيُضِلَّ الْحَدِيثِ لَهْوَ يَشْتَرِي مَن النَّاسِ
وَمِنَ
“Dan diantara manusia
(ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan
(manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu
sebagai olok-olokan. Mereka itu memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman:6)
Jikalau kata-kata dalam nyanyian itu
merupakan perkataan-perkataan yang tidak berguna bahkan menyesatkan manusia
dari jalan Allah, maka HARAM nyanyian tersebut. Nyanyian-nyanyian yang membuat
manusia terlena, mengkhayalkan hal-hal yang tidak patut maka kesenian tersebut
haram hukumnya.
Pendapat tentang pengertian seni dalam Islam
Menurut Seyyed Hossein Nasr, seni
Islam merupakan hasil dari pengejawantahan Keesaan pada bidang keanekaragaman.
Artinya seni Islam sangat terkait dengan karakteristik-karakteristik tertentu
dari tempat penerimaan wahyu al-Qur’an yang dalam hal ini adalah masyarakat
Arab. Jika demikian, bisa jadi seni Islam adalah seni yang terungkap melalui
ekspresi budaya lokal yang senada dengan tujuan Islam. Sementara itu, bila kita
merujuk pada akar makna Islam yang berarti menyelamatkan ataupun menyerahkan
diri, maka bisa jadi yang namanya seni Islam adalah ungkapan ekspresi jiwa
setiap manusia yang termanifestasikan dalam segala macam bentuknya, baik seni
ruang maupun seni suara yang dapat membimbing manusia kejalan atau pada nilai-nilai
ajaran Islam.
Di sisi lain, dalam Ensiklopedi
Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung
dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi kedalam
bentuk yang dapat ditangkap oleh indra pendengaran (seni suara), penglihatan
(seni lukis dan ruang), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari dan
drama).
Dari difinisi yang kedua ini bisa jadi seni
Islam adalah ekspresi jiwa kaum muslim yang terungkap melalui bantuan alat
instrumental baik berupa suara maupun ruang. Hal ini juga bisa kita lihat dalam
catatan sejarah bahwa dalam perkembangannya baik seni suara maupun ruang
termanifestasikan.
Dengan definisi demikian, maka setiap
perkembangan seni baik pada masa lampau maupun masa kini bisa dikatakan seni
Islam asalkan memenuhi kerangka dasar dari difinisi-difinisi di atas. Dengan
kata lain, seni bisa kita kategorikan seni Islam bukan terletak pada dimana dan
kapan seni tersebut termanifestasikan, melainkan pada esensi dari ajaran-ajaran
Islam yang terejahwantah dalam karya seni tersebut.
- Perkembangan seni pada masa bani
umayyah
Perkembangan seni Pada masa Daulah Bani Umayyah , terutama
seni bahasa, seni suara, seni rupa, dan seni bangunan (Arsitektur).
1. Seni Bahasa
Kemajuan seni bahasa sangat erat
kaitannya dengan perkembangan bahasa. Sedangkan kemajuan bahasa mengikuti
kemajuan bangsa. Pada masa Daulah Bani Umayyah kaum muslimin sudah mencapai
kemajuan dalam berbagai bidang, yaitu bidang politik, ekonomi, sosial, dan ilmu
pengetahuan. Dengan sendirinya kosakata bahasa menjadi bertambah dengan
kata-kata dan istilah –istilah baru yang tidak terdapat pada zaman sebelumnya.
Kota Basrah dan Kufah pada zaman itu
merupakan pusat perkembangan ilmu dan sastra (adab). Di kedua kota itu
orang-orang Arab muslim bertukar pikiran dalam diskusi-diskusi ilmiah dengan
orang-orang dari bangsa yang telah mengalami kemajuan terlebih dahulu. Di kota
itu pula banyak kaum muslimin yang aktif menyusun dan menuangkan karya mereka
dalam berbagai bidang ilmu. Maka dengan demikian berkembanglah ilmu tata bahasa
(Ilmu Nahwu dan sharaf) dan Ilmu Balaghah, serta banyak pula lahir-lahir
penyair-penyair terkenal.
2. Seni Rupa
Seni rupa yang berkembang pada zaman
Daulah Bani Umayyah hanyalah seni ukir, seni pahat, sama halnya dengan zaman
permulaan, seni ukir yang berkembang pesat pada zaman itu ialah penggunaan khat
arab (kaligrafi) sebagai motif ukiran.
Yang terkenal dan maju ialah seni
ukir di dinding tembok. Banyak Al-Qur’an, Hadits Nabi dan rangkuman syair yang
di pahat dan diukir pada tembok dinding bangunan masjid, istana dan
gedung-gedung.
3. Seni Suara
Perkembangan seni suara pada zaman
pemerintahan Daulat Bani Umayyah yang terpenting ialah Qira’atul Qur’an,
Qasidah, Musik dan lagu-lagu lainnya yang bertema cinta kasih.
4. Seni Bangunan (Arsitektur)
Seni bangunan atau Arsitektur pada
masa pemerintahan Daulah Bani Umayyah pada umumnya masih berpusat pada seni
bangunan sipil, seperti bangunan kota Damaskus, kota Kairuwan, kota Al- Zahra.
Adapun seni bangunan agama antara lain bangunan Masjid Damaskus dan Masjid
Kairuwan, begitu juga seni bangunan yang terdapat pada benteng- benteng
pertahanan masa itu.
Adapun kemajuan dalam bidang ilmu
pengetahuan, berkembangnya dilakukan dengan jalan memberikan dorongan atau
motivasi dari para khalifah. Para khalifah selaku memberikan hadiah-hadiah
cukup besar bagi para ulama, ilmuwan serta para seniman yang berprestasi dalam
bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan
di sediakan anggaran oleh negara, itulah sebabnya ilmu pengetahuan berkembang
dengan pesatnya.
Pusat penyebaran ilmu pengetahuan
pada masa itu terdapat di masjid-masjid. Di masjid-masjid itulah terdapat
kelompok belajar dengan masing-masing gurunya yang mengajar ilmu pengetahuan
agama dan umum ilmu pengetahuan agama yang berkembang pada saat itu antara lain
ialah, ilmu Qira’at, Tafsir, Hadits Fiqih, Nahwu, Balaqhah dan lain-lain. Ilmu
tafsir pada masa itu belum mengalami perkembangan pesat sebagaimana yang
terjadi pada masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah. Tafsir berkembang dari
lisan ke lisan sampai akhirnya tertulis. Ahli tafsir yang pertama pada masa itu
ialah Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi yang sekaligus juga paman Nabi
yang terkenal.
- Alat Musik Islam
Musik Islam selanjutnya berkembang
sejalan dengan perkembangan musik di Eropa. Penggunaan alat musik seperti oud
sangat membantu dalam memahai pelajaran musik islam. Oud adalah alat musik
berbentuk seperti buah piryang di potong setengah dan di lengkapi senar atau
sring sebanyak 12 buah.
Oud di Italia berubah nama menjadi il
luto.Berbeda dengan Jerman, il luto dikenaldengan nama laute.Terjadi perubahan
bahasa penyebutan pada alat musik yang benar-benar sama ini.Prancis menyebutnya
le luth.Sementara itu, Inggris menamainya lute.
Selain oud,ada alat musik lain yang
sering dipakai dalam seni musik Islam.Sebelum menjadi biola,alat musik berdawai
dengan tabung resonansi yang lebih kecil dari gitar ini dikenal dengan nama
rebab. Alat musik rebab menyebar dari Spanyolke Eropa dengan nama rebec. Bila rebab tersedia, rebana sudah pasti ada .
Instrumen musik Arab yang satu ini terbuat dari kayu dan perkamen. Penggunaan
alat musik rebana telah di lirik dunia barat, kemudian membawa rebana ke
negaranya. Acara kenegaraan di istana dan gedung pertemuan sering menghadirkan
rebana sebagai hiburan. Sampai sekarang rebana masih digunakan dalam bermusik
di beberapa negara seluruh dunia.
- Hal yang perlu di perhatikan
dalam Menyanyi
Maka menurut DR. Yusuf Qardhawi,
hal-hal yang harus diperhatikan dalam hal nyanyian antara lain :
1. Tidak semua nyanyian hukumnya mubah, karena isinya harus
sesuai dengan etika islami dan ajaran-ajarannya.
2. Penampilan dan gaya menyanyikannya juga perlu dilihat
3. Nyanyian tersebut tidak disertai dengan sesuatu yang
haram, seperti minum khamar, menampakkan aurat, atau pergaulan bebas laki-laki
dan perempuan tanpa batas.
4. Nyanyian –sebagaimana semua hal yang hukumnya mubah
(boleh)- harus dibatasi dengan sikap tidak berlebih-lebihan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teknologi
dibuat atas dasar ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk mempermudah pekerjaan
manusia. Pada mulanya, teknologi tercipta berdasarkan niat dan tujuan dari si
pencipta teknologi tersebut. Bila sebuah teknologi dapat diciptakan dengan
tujuan yang baik, maka tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap
lingkungan sekitar. Sehingga teknologi tersebut dapat bermanfaat bagi para
penggunanya. Dalam penggunaan berbagai macam teknologi yang ada, harus mampu
dalam menganalisis dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan dari
teknologi tersebut.
3.2 Saran
1.
Dalam penggunaan teknologi dalam
bentuk apapun, lebih baik untuk mampu memilah nilai positif dan negatif yang
diberikan dari teknologi tersebut.
2.
Dalam penggunaan teknologi, mampu
mengendalikan diri sehingga tidak menimbulkan kerusakan bagi ligkungan sekitar,
atau dengan kata lain, lingkungan di mana populasi-populasi berada.
3.
Sebagai manusia yang memiliki dasar
keimanan terhadap Allah SWT, diharapkan mampu memanfaatkan teknologi sesuai
dengan koridor-koridor Islam, sehingga tidak menjadi suatu yang mudharat.
4.
Dalam suatu penciptaan sebuah
teknologi, lebih baik tidak ada sesuatu yang disembunyikan dalam segala sesuatu
tentang teknologi tersebut. Baik dari segi proses penciptaannya, tujuan
penciptaannya, dan lain sebagainya.




